Kisah Sukses Bisnis dari Guru Pesantren

Apapun latar belakang Anda, semua orang bisa mengubah hidupnya melalui bisnis, termasuk seorang guru pesantren. Semoga kisah sukses ini bisa memberikan inspirasi untuk Anda. 


Ahmad Rosikhin, S.Pd.I (Eros), Guru Pesantren 
Mulailah semuanya dari mimpi, tidak hanya berencana tapi percaya. If you think you can, you can. Dan andapun mampu melahirkan kehebatan. Begitulah kata-kata motivasi yang sudah mendarah daging, tulang, dan bahkan syaraf-syaraf hidup pria ini.

Tujuh tahun sudah berlalu semenjak Ahmad Rosikhin, yang akrab dipanggil Eros, bergelut di NASA. Rumah, tanah, tabungan dan kendaraan pribadi kini ada di genggaman. Meski demikian, hidup tidaklah berhenti disitu saja. Banyak impian yang masih ingin diwujudkannya, salah satunya menjadikan daerah Jambi dan sekitarnya ijo royo-royo dengan NASA. Selain itu, ”Jika saya sukses, maka downline maupun petani yang saya bimbing juga harus sukses,” demikian kata laki-laki kelahiran Brebes ini.

Ahmad Rosikhin dilahirkan di Brebes, 16 Juli 1980, dari orangtua petani. Lahir dalam keluarga petani menjadikan Eros sedikit banyak paham akan dunia agrokompleks. Maka ketika uplinenya, Kholil Rokhman, menawari antara bisnis NASA dengan bisnis pulsa, Eros langsung memilih bisnis NASA yang notabene banyak bergerak di bidang agrokompleks.

Saat itu Eros masih berstatus sebagai santri pesantren Alhikmah 2 Benda, Bumiayu. Dengan motivasi agar bisa mandiri secara finansial, maka di sela-sela penyusunan skripsi S1nya dia sering bolak-balik Brebes-Yogyakarta hanya untuk menimba ilmu dari para upline di Yogyakarta. Baginya, “Berbuat tanpa ilmu ibadahnya tertolak, dan berilmu tidak diamalkan bagaikan pohon tak berbuah.”
Pertama kali mengembangkan bisnis NASA, Eros hanya bermodalkan Rp 500.000 pemberian modal usaha dari orang tua. Uang tersebut dibelikan produk NASA, dan pada bapaknya pula dia minta pupuk tersebut diuji coba yang ditolak mentah-mentah, “Jelek, harganya murah, pupuk yang harganya mahal aja gak mempan,” begitu Bapaknya menampik tawaran Eros.

Namun karena iba melihat kegigihan Eros dalam memohon, akhirnya orang tua mau juga mengaplikasikan NASA ke tanaman bawang. Merasakan hasilnya bagus, sampai kini produk tersebut masih dipakainya. Meski begitu, rintangan dari orang tua tidak juga berhenti. Ketika saatnya menerima slip bonus NASA yang ternyata cuma menerima bonus Rp 11.500, orang tua serta merta melarang Eros untuk berbisnis. Di mata ayahanda, seorang santri seperti Eros tugas utamanya adalah mengajar dan mengaji, tidak perlu melakukan tindakan yang aneh-aneh, termasuk bisnis.
Namun demikian, dia masih terus mencoba. Dengan mengandalkan lingkungan asrama pesantren, dia menawarkan bisnis jaringan NASA ke teman-teman sesama santri.

Terhimpit, Terbuang, Lalu Bangkit Tegak 

Hingga akhirnya ketika jaringan NASA sudah terbentuk di Bumiayu dan sekitarnya, seminggu setelah menikah dengan Siswanti, perempuan lulusan fakultas TP UGM, Eros ditawari menjadi guru pesantren di Bungo, Jambi oleh kyai sepuhnya.

Tawaran ini diterima dengan alasan pertama untuk mengamalkan ilmu selama di pesantren, dan kedua untuk me-ngembangkan NASA di Jambi sebagai daerah penghasil karet dan sawit. Maka diselipkannya sebotol NASA dan sebotol hormonik di antara baju-baju dan buku-buku untuk bekal ke Jambi. Satu tahun di Jambi, NASA hampir terlupakan mengingat beban psikologis pesantren begitu berat, dimana bisnis di kalangan guru pesantren menjadi hal yang tabu.

Saat itu Eros beserta istri hidup amat sangat bersahaja dengan gaji sebulan keduanya mengajar total cuma Rp 400.000. Namun impian sukses itu masih juga terngiang-ngiang hingga akhirnya Tuhan membukakan pintu rizqi lewat salah seorang wali santri yang mampir ke rumah Eros. Di gubug yang beralaskan lantai kayu, beratapkan papan rumbia itu, wali santri tersebut melihat sebotol NASA dan Hormonik diletakan di dinding rumah. “Itu apa?”  tanyanya. Dari situlah NASA mulai dikenalkan ke daerah tempat tinggal wali santri tersebut yang notabene adalah daerah transmigrasi dengan sawit dan karet sebagai penghasilan mayoritas masyarakatnya.

NASA pun mulai berkembang perlahan–lahan di sela-sela kegiatan Eros mengajar hampir 24 jam di pesantren. Setiap hari jum’at, yaitu hari libur pesantren, dan sore hari setelah ngajar, Eros dengan mengajak downlinenya yang punya motor masuk ke dusun-dusun untuk menawarkan produk NASA pada petani karet, sawit, cabe, dan lain-lain.

Produk saat itu langsung didatangkan dari yogya, sehingga butuh waktu satu minggu. karena kendala modal, maka sering kehabisan stock hingga petani harus menunggu. Namun hal itu tidak membuat impian untuk sukses lewat NASA menjadi padam. Semangat itu kian menyala ketika berturut-turut upline dari Yogya datang, dimulai dari datangnya Candra Wikamto, kemudian di susul Akhsanto Ali, Yatmin, dan Kholil Rokhman. “Saya terharu, beliau-beliau yang sudah sukses berkenan tidur di gubug dan makan tempe tahu saja,” kata Eros mengenang .

Eros semakin giat mengembangkan NASA ketika istrinya hamil dan melahirkan anak pertama dengan operasi cesar. Himpitan ekonomi yang semakin ketat, membuat pria ini menggeliat, dan tutup mata terhadap cibiran pesantren. “Saya, istri dan anak saya mau jadi apa kalau cuma mengandalkan gaji Rp 400.000 dari ngajar? toh kewajiban saya sebagai guru tetap dijalankan,” Eros sambil matanya berkaca-kaca.

Pesantren gerah melihat kegiatan bisnis Eros yang bagi mereka belum lazim. Dia diusir dari lembaga tempatnya berkarya selama ini. “Merasa terbuang di tanah rantau dengan kondisi ekonomi compang-camping, Istri saya menangis, minta pulang ke Jawa. Tapi saya berprinsip kalau sudah mengarungi lautan, pantang kembali dan harus berhasil, Insya Allah dengan NASA bisa,” tanpa sadar bapak satu putri ini menitikkan air mata tipis.

Tak Kenal Menyerah, Satu Persatu Impian Terwujud

Perjuangan keras yang hampir-hampir saja membuatnya frustasi berbalik menjadi berkah yang tiada terkira. Berbekal Rp 1,5 juta, Eros mengontrak rumah dan melanjutkan bisnisnya. Cerita pedih dan penuh perih berganti keriangan. Bisnis NASA dia maju melesat. Penjualan naik drastis, dan satu persatu impiannya dijemput, termasuk keinginan mempunyai gudang NASA Muara Bungo selain rumah, tanah, mobil dan tabungan yang sudah digenggamnya. Omset puluhan juta pun sudah berputar. “Ke depan, omset ratusan juta bisa saya raih, bahkan miliaran,” bersemangat seakan sudah lupa dengan cerita men-nyilet yang baru saja selesai dipaparkan.

“Kalau anda ingin sukses dunia akhirat, teguhlah pada Alquran dan Hadist. Kalau anda ingin sukses NASA, berpeganglah pada 9 langkah sukses dan berkonsultasilah pada upline aktif serta bangun komunikasi dengan perusahaan anda. Lakukan prosesnya dan jangan menyerah apa yang sudah anda mulai,” pungkas lugasnya pada NASA Magz. Go....Crown Diamond..!!!!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Sukses Bisnis dari Guru Pesantren "

Posting Komentar